Setiap tahun, jutaan siswa SMA memasuki fase yang cukup menentukan dalam hidupnya: memilih jurusan kuliah. Bagi banyak keluarga, keputusan ini sering terasa seperti titik awal masa depan anak. Karena itulah tidak sedikit orang tua yang ingin memastikan anaknya memilih jurusan yang “aman”, populer, atau dianggap memiliki prospek karier terbaik.
Namun kenyataannya, banyak mahasiswa yang di tengah perjalanan kuliahnya justru merasa tidak cocok dengan jurusan yang dipilih.
Beberapa survei pendidikan menunjukkan bahwa persentase mahasiswa yang merasa salah jurusan cukup tinggi. Misalnya, survei dari Indonesia Career Center Network (ICCN) pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sekitar 80% mahasiswa di Indonesia mengaku pernah merasa salah jurusan selama masa kuliahnya. Bahkan sebagian dari mereka benar-benar mengambil langkah ekstrem seperti pindah jurusan atau memulai kuliah dari awal.
Fenomena ini juga terlihat di tingkat global. Survei dari Gallup menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% pekerja di dunia yang benar-benar merasa engaged atau menikmati pekerjaannya, sementara sebagian besar lainnya bekerja hanya karena tuntutan ekonomi atau kewajiban.
Data ini memberi gambaran sederhana: banyak orang dewasa yang bekerja di bidang yang tidak benar-benar sesuai dengan dirinya.
Dan sering kali, semuanya bermula dari pilihan jurusan kuliah yang tidak selaras dengan potensi atau minat alami seseorang.
Dampak Salah Jurusan Tidak Hanya Akademik
Salah jurusan bukan sekadar masalah nilai kuliah. Dampaknya bisa lebih luas dari yang dibayangkan.
Beberapa mahasiswa yang merasa tidak cocok dengan jurusannya sering mengalami:
-
kehilangan motivasi belajar
-
merasa kuliah sebagai beban
-
kesulitan memahami materi
-
merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri, kesehatan mental, hingga arah karier seseorang.
Ketika seseorang terus berada di bidang yang tidak sesuai dengan kecenderungan dirinya, pekerjaan bisa terasa seperti rutinitas yang melelahkan. Bukan tempat untuk berkembang.
Karena itu, proses memilih jurusan kuliah sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru atau sekadar mengikuti tren.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.
Memahami Bahwa Jurusan Bukan Sekadar Nama Program Studi
Sering kali orang tua melihat jurusan kuliah dari sisi peluang kerja atau reputasi bidang tersebut. Misalnya:
-
jurusan yang dianggap paling menjanjikan
-
jurusan yang populer di masyarakat
-
atau jurusan yang pernah menjadi kebanggaan keluarga
Padahal bagi anak, jurusan kuliah juga berkaitan dengan hal-hal yang jauh lebih personal, seperti:
-
cara berpikir yang digunakan setiap hari
-
cara belajar yang terasa alami
-
jenis aktivitas yang membuatnya bersemangat
-
lingkungan kerja yang akan ia jalani di masa depan
Jika pilihan jurusan terlalu jauh dari kecenderungan alami anak, maka proses belajar bisa terasa seperti kewajiban yang berat.
Karena itu, langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah membantu anak memahami dirinya sendiri terlebih dahulu.
Mulai dari Mendengarkan, Bukan Mengarahkan
Banyak percakapan tentang jurusan kuliah dimulai dengan nasihat orang tua.
Padahal sebelum memberi saran, ada satu hal yang jauh lebih penting: mendengarkan cara anak melihat masa depannya.
Orang tua dapat memulai dengan pertanyaan sederhana seperti:
-
“Kalau membayangkan kuliah nanti, kamu paling tertarik belajar tentang apa?”
-
“Bidang apa yang membuat kamu paling penasaran?”
-
“Apa yang membuat kamu tertarik dengan jurusan itu?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak mengeluarkan isi pikirannya sendiri.
Tugas orang tua di tahap ini bukan menilai atau mengoreksi, tetapi memahami bagaimana anak melihat dunia yang ingin ia jalani.
Mengenali Cara Kerja Otak Anak
Setiap anak memiliki kecenderungan cara berpikir yang berbeda. Ada yang sangat analitis, ada yang kreatif, ada yang kuat dalam komunikasi, dan ada pula yang sangat sistematis dalam bekerja.
Perbedaan ini sering tidak terlalu terlihat selama di sekolah, karena sistem pendidikan cenderung seragam. Namun ketika masuk dunia kuliah dan karier, perbedaan cara berpikir ini menjadi sangat menentukan.
Di sinilah pendekatan seperti konsep STIFIn dapat membantu orang tua dan anak memahami kecenderungan kecerdasan dominan seseorang berdasarkan cara kerja otaknya.
Dengan memahami kecenderungan ini, orang tua dapat melihat:
-
bidang apa yang biasanya lebih mudah dipelajari anak
-
aktivitas apa yang membuatnya lebih berenergi
-
lingkungan kerja seperti apa yang kemungkinan lebih cocok untuknya
Tujuannya bukan membatasi pilihan anak, tetapi memberikan peta navigasi agar ia tidak berjalan tanpa arah.
Menghubungkan Minat Anak dengan Potensi Alaminya
Setelah anak memahami kecenderungan dirinya, langkah berikutnya adalah menghubungkan minat yang ia miliki dengan potensi alaminya.
Misalnya seorang anak tertarik pada dunia teknologi. Dari minat tersebut masih ada banyak kemungkinan jalur yang berbeda, seperti:
-
analisis data
-
pengembangan software
-
desain digital
-
manajemen proyek teknologi
Melalui diskusi yang terbuka, orang tua dapat membantu anak melihat bahwa satu minat bisa memiliki berbagai jalur jurusan.
Di tahap ini, orang tua berperan sebagai partner diskusi, bukan sebagai penentu keputusan.
Membantu Anak Memantapkan Pilihan
Setelah proses eksplorasi, biasanya anak mulai memiliki satu atau dua jurusan yang terasa paling cocok.
Orang tua dapat membantu anak memantapkan pilihan dengan cara:
-
Mengajak anak mencari informasi lebih dalam tentang jurusan tersebut.
-
Mengenalkan anak pada orang yang sudah berada di bidang tersebut.
-
Membantu anak melihat tantangan nyata dari jurusan itu.
Dengan cara ini, keputusan yang diambil bukan sekadar berdasarkan imajinasi, tetapi juga pemahaman yang lebih realistis.
Ketika Jurusan Selaras dengan Potensi
Ketika seorang anak memilih jurusan yang sesuai dengan dirinya, proses belajar biasanya terasa jauh lebih natural.
Ia lebih mudah:
-
memahami materi
-
menikmati proses belajar
-
bertahan menghadapi kesulitan
-
mengembangkan keahlian secara lebih mendalam
Bagi orang tua, melihat anak belajar dengan penuh semangat adalah salah satu indikator bahwa ia berada di jalur yang tepat.
Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar mendapatkan gelar, tetapi membantu anak menemukan bidang yang membuatnya bisa bertumbuh secara optimal.
Dan perjalanan menemukan jurusan yang “gue banget” sering kali dimulai dari satu hal sederhana: orang tua yang mau mendengarkan, memahami, dan mendampingi anak mengenal dirinya sendiri.
Penulis:
Coach Herdian adalah Founder Brainity Coaching Center serta seorang Professional Career and Positive Parenting Coach yang berfokus membantu orang tua dan remaja menemukan potensi diri, menentukan arah pendidikan, dan merancang masa depan yang selaras dengan kekuatan alami mereka.




